GatraDilatih

GatraDilatih
Lembaga Ketrampilan Pendidikan dan Pelatihan

Kamis, 15 Januari 2015

MEMBANGUN MASA DEPAN SEKOLAH MELALUI INNOVASI DAN ENTREPRENEURSHIP

https://www.facebook.com/notes/ruky-dwinarputra/membangun-masa-depan-sekolah-melalui-innovasi-dan-entrepreneurship/205652443296 
Oleh-oleh dari :
NATCON (National Teaching Conference On Entrepreneurship) 2009
Di Seminyak, bali
Ki.Ruky Dwinarputra (SMK Tamansiswa 1 Jakarta)

Key : 1. Abad 21
2. membangun siswa; prilaku guru; manajemen dan sarpra sekolah
3. membangun masyarakat (instansi pemerintah; dudi dan; orang-tua/wali murid)

Salam dan Bahagia,
Sekapursirih :
Conference ini adalah acara tahunan (sejak tahun 2000) dari Univ.Ciputra melalui Community Entrepreneur School (CES), yang konsekuen di dalam menyiapkan Genenasi Long-Life Employability melalui Pendidikan Entrepreneur.
Berawal dari kekhawatiran seorang pengusaha besar (Ir.Ciputra) terhadap perkembangan jaman yang begitu cepat (abad 21), yang (kondisi eksisting) belum dapat diikuti oleh perkembangan dunia pendidikan (sekolah) sebagai tempat proses dari pembentukan generasi penerus.
Kondisi tersebut di sikapi melalui penelitian dan pembangunan sekolah yang berbasis Entrepreneurship, yaitu Universitas Ciputra. Tidak cukup hanya disitu, beliau juga melanjutkan program penyikapan kondisi abad 21salah satunya melalui pembentukan komunitas Sekolah Entrepreneurship, yang salah satu kegiatannya adalah NATCON.
Untuk Penyelenggaraan kali ini, peserta selain komunitas yang sudah dibangun (Sumatra; Jawa dan Kalimantan) panitia mengembangkan/mengajak saudara lainnya dari Indonesia bagian tengah dan timur sekaligus pendalaman materi untuk wilayah sebelumnya.

Kegiatan
Kekhawatiran akan kondisi di abad 21 merupakan alasan yang mendasari pada setiap kegiatan selama 3 hari. Dan Proses menyiapkan anak/siswa untuk BERINOVASI di MASA DEPAN adalah Thema besar yang diusung kali ini. Solusi implementasinya melalui Innovation and Entrepreneurship yaitu membantu membuka wacana peserta tentang perlunya sebuah orientasi dan standar baru dalam mengelola proses pendidikan sekolah. Adapun bentuk-bentuk inovasi dilandasi oleh konsep pendidikan entrepreneurship K-12. Nasional Konferensi ini membekali peserta dalam mengelola sekolah menjadi sekolah unggulan serta siap menyambut era pendidikan masa depan, melalui penemuan keunggulan berkompetisi.

Agenda Kegiatan :
Kegiatan selama 3 hari terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu
1. Plenari (Rabu, 18 November 2009)Dibuka oleh Bpk.Cakra Ciputra (Ketua Umum AYUB), sebagai penyampai pesan sekaligus penyadaran bahwa ada kondisi yang tidak dapat dihindari tetapi perlu disikapi, yaitu kondisi eksisting bahwasannya kita harus memiliki kompetisi didalam menghadapi abad ke 21 dengan salah satu cirinya cepat, yang tidak diikuti dengan percepatan di tempat proses pembentukan masyarakat/generasi masa depan yaitu sekolah. Sikap utama adalah membuat pembelajaran yang berbasis INOVASI. Hal ini dapat dilaksanakan melalui pendidikan entrepreneurship, yaitu pendidikan yang membentuk siswa/generasi untuk memiliki jiwa antara lain :
  • Peka dan peduli terhadap kesejahteraan dan perdamaian masyarakat global maupun internasional;
  • Terbuka dan mandiri, mampu mencari, mencipta dan menemukan peluang dengan berpikir kritis dan kreatif yang menghasilkan ide-ide inovatif;
  • Dapat mengkomunikasikan ide inovatif yang dilandasi dengan sikap kejujuran, tanggung jawab dan kepekaan terhadap kebutuhan orang lain;
  • Berani mengambil resiko dan memiliki ketrampilan-ketrampilan untuk menjalankan ide-ide inovatif secara nyata disertai sikap etis.
Ada 2 (dua) workshop yang masing-masing berjudul :Mempersiapan generasi long life employalibity dan inovatif melalui system Entrepreneurship dan Kunci Sukses Pendidikan Entrepreneurship di Indonesia.
Dan 1 (satu) Saresehan berjudul Mengelola Perubahan Sekolah dengan Pola Pikir Entrepreneurship.

2. Pendidikan Entrepreneurship K-12 Ciputra WayPada hari kedua, Kamis 19 November 2009, sudah diadakan pembagian menurut satuan pendidikan (jenjang) dan pengelola/pimpinan sekolah. Untuk satuan pendidikan lebih cenderung membahas pada pembelajaran secara praktis dan standar prilaku belajar, sedangkan untuk pengelola/pimpinan sekolah menekankan pada pembuatan kebijakan perubahan paradigma pembelajaran abad 21 melalui penajaman dalam melihat-mengaplikasikan dan menemukan tentang fakta; konsep; prosedur dan prinsip tentang pendidikan dan masa depan. Hari kedua ini diakhiri dengan Talkshow berjudul Pendidikan Entrepreneurship dan Pendidikan Abad 21.
 
3. Mengelola Inovasi di Sekolah
Dengan bekal pada hari pertama dan kedua, pada hari ke tiga ini, 20 November, kemudian di tingkatkan dalam aplikasi pengeloalaan sekolah Mengelola Entrepreneurship
Dalam mengelola entrepreneur di sekolah yang perlu diperhatikan, antara lain:
Sosialisasi dan komitment stakeholders sekolah melalui kegiatan membangun standar prilaku siswa dan guru (kreatifitas dan belajar melalui portofolio); manajemen sekolah (system pembelajaran berbasis proyek) serta; menyiapkan sarpra sekolah (media dan bahan pembelajaran).

Kesadaran akan perubahan disikapi dengan, yaitu ;
• Membangun Kreatifitas Siswa
Kreatifitas berperan sangat penting dalam system pendidikan entrepreneurship. Tanpa kreatifitas pembelajaran entrepreneurship canderung sulit berkembang. Pembiasaaan siswa untuk berpikir secara original, out of the box, elaborative, fleksibel, serta multi perspektif menjadi beberapa ciri siswa yang berpikir kreatif.
Sedangkan untuk membangun hal tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan yang berbasis entrepreneurship antara lain di implementasi melalui : cara berpikir left brain & right brain; menyikapi hambatan menjadi peluang; membangun sikap kerja keras - ketekunan dan – keuletan; membangun pengembangan imajinasi; mengetahui standar penilaian tentang kreatif.
• Belajar melalui portofolio siswa
Adanya keunikan karakteristik anak/siswa, dan cara belajar mereka yang berbeda adalah penting untuk menumbuhkan “self regulated learning” mereka. Dimulai dari menentukan kemampuan menentukan tujuan belajar; menumbuhkan rasa mampu diri (self-efficacy); penataan lingkungan dan perencanaan; caram mendapatkan social support; melakukan evaluasi diri dan monitoring; yang kesemuanya dilakukan dalam media portofolio.
• Mengelola system pembelajaran berbasis Proyek
(Mr.Richard Bahcman)
Salah satu system pembelajaran yang dipilih dalam pendidikan berbasis entrepreneurship adalah system pembelajaran berbasis proyek, untuk mendukung teaching best practice.
Dengan pendekatan system ini, maka kualitas pembelajaran pendidikan entrepreneurship akan lebih variatif dan berkualitas.
 
Siklus pembelajaran :
1) EXPLORING
2) PLANNING
3) COMMUNICATING
4) DOING
5) REFLECTING
 
Kesimpulan :
1. Bahwasannya pendidikan adalah sebuah investasi kita dalam bentuk sumber daya manusia. Artinya bahwa apa yang kita tanam/ajarkan/didik, akan kita petik/panen dikemudian hari.
Ki Hajar Dewantara berpesan lewat ajaran-ajarannya, antara lain :
  • Pendidik disebut PAMONG, atau seorang abdi (tulus-ikhlas) membantu tumbuh-kembangnya minat dan bakat anak/siswa melalui system “AMONG.”
  • Beliau memperingatkan kepada kita semua bahwa, pada satu saat (sekarang) akan ada zaman yang membingungkan (karena tidak ada batas yang jelas). Untuk itu Ki.Hajar membekali kita dengan senjata TRI-KON (Kontinyu-Konvergen dan Konsentris).
  • Semua ini dilakukan bertujuan untuk menjadikan masyarakat yang tertib damai serta salam dan bahagia (karsa), melalui rasa kekeluargaan dan penggerakan ekonomi kerakyatan dan kemandirian (cipta)..
Ternyata ajaran beliau, masih sangat relevan dan bahkan dipakai oleh mereka (sekolah-sekolah terkenal) melalui pengakuan Tut Wuri Handayani dan implementasi pendidikan KEWIRAUSAHAAN (kemandirian), namun bahasa pengantarnya dengan bahasa Inggris.

2. Yang perlu kita sama sadari, bahwa sebenarnya mereka kagum dengan kita (bukan saja karena kita masih bisa eksis). Tapi mereka juga kagum dengan apa yang kita lakukan (SMK Tamansiswa 1 Jakarta, lewat “Kelas Wirausaha”). Karena mereka baru tahun ke-2 (dua) melakukannya dan bahkan baru akan mengembangkannya.
3. Namun demikian, kita juga harus sama akui. Bahwa mereka lebih professional dan kemasan standar internasional. (adalah kekurangan kita)
4. Untuk pengembangan berikut, mereka akan sama belajar dengan kita dalam upaya menuju perbaikan dan meminimalisir kekurangan masing-masing.
5. Saya belajar banyak terutama pada “komitmen.” Bahwa mereka dengan berbagai latar-belakang sekolah, dapat menyamakan persepsi dan langkah untuk sebuah tujuan nasional sebagai investasi (dunia dan akhirat).
 
Akhir kata, penulis memohon maaf yang sebesarnya. Kemungkinan saya belum dapat memberikan yang terbaik kepada semua stakeholders. Namun ijinkan saya, untuk berterimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung sehingga saya dapat melaksanakan tugas ini sampai dengan selesai. Ke khususan kami sampaikan kepada Ki.Hajar Dewantara dan para penerusnya, yang memboyong, saya sampai ke Bali dalam menyampaikan Sapta Krida (Pencitraan Tamansiswa).
 
Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar